ku tandai

pada jam ini

panggil saja dia si tuan 1:15 am

dari si tuan itulah aku memulai

tunggu,
mulai terasa pada saat itu lagi
dimana kau sebut bertubi-tubi
sampai mencapai puncak tertinggi

terakhir ku menegur
dengan sapaan melantur
tak kuasa sampai terbentur

maklum
dulu kala tak mengenal malu

sabar,
sekarang sudah berganti 1:18 am
mungkin sebentar lagi

sudah saatnya

ya,
tiba pada saatnya mereka datang
dan membelenggu


oke ,

gua kembali lagi dengan si blog lama

udah beberapa bulan
ya,
bisa di bilang beberapa bulan itu gua vacum (cleaner) dari blog ini :D

ini yang membuat gua sedikit canggung
canggung untuk nge-posting yang baru-baru lagi

mungkin para pengunjung bisa melihat barang baru gua di sini
hehehe

itu isinya sedikit aneh
karna segala info ada disana
tapi ga semuanya juga ada disana --"

sudah mulai mengantuk gua
hoaaaammmmm :O
karna besok pagi gua harus manggung di sekolah
lebih tepatnya ya test untuk acara natal nanti
wkwkw :D

okelah kalo begbegbegbegbeggitchhuu :D
mungkin bentar lagi gua bakal nge-posting sajak abals yang baru lagi :D

see yaa \m/

enjoy . respect . and God Bless .


terlahir
untuk di injak
dan mati
untuk di tinggikan

tidur di malam yang panjang
bak esok tak ada hari lagi

tetap saja petang
atau tidak
malam lebih baik

terhina dalam tawa
tragedi 1921
mati lah mereka ! !

sedikit saja yang tau
aku ?
aku pun tak mengetahui tragedi macam apa itu

injak saja mereka !
JAHANAM!

bakar mereka !
mereka hanya sampah !

sudah habis batas kesabaran

dasar pendusta
tidak ada lagi yang di inginkan

hanya bebas
dan bebas

sebab
hanya dialah
si orang bebas itu

JAHANAM !



histeris di pagi

walau terasa masih sepi
tetap terdengar suara jerit

terbangun
dari semua tulisan
yang sama

terjatuh
dari semua hujatan
yang menjahanam

sedikit lagi
terasa lagi

tak bisa jahanam
tak kuat duniawi

terlalu lepas
dan mengeksploitasi

sudah malam
tadi tidur
kembali ragu
dalam belenggu


frontal
lupakan saja mereka
lupakan saja dirinya
dan enyahkan sajalah aku

tak perlu kau menghamba
atau,
kau pun tak perlu mengiba

inilah ragaku
terombang-ambing dalam ambisi

mereka hanya meragukan awan
walau serupa tak menawan

tak terbawa
tak terhempas

terkunci rapat
segala ambisi aku


harapan
sirna sudah

jenuh
dan terbunuh

anggap saja,
semua ini,
awal dari kematian dini

sesak kan terobati
isak kan teratasi

sampai nanti
wahai penghianat hati


pagi ini (22-06-10)
kedua mataku terjaga
di tempat tak teraga
mengingat serpihan kenangan
dari kota kemenangan
segala sudut ruang,
tak terulang
hanya sama
seperti dulu, kemarin,
atau hingga lusa
ingin tetap menerjang
hari ke depan di sini
tuk menyisiasati
sgala memori yang tlah terhapuskan
mungkin nanti,
aku akan kembali
suatu saat nanti
pasti,
aku akan kembali
seperti hari kemarin
dan hari ini
di kota ini
untuk mereka,
kawan berbagi ceria
di kala dulu


for a good cry
for a good memories
for the last cry
and for thurth till ur perfect lies

seems good
when u leave me
so good
when u kill my mind

i call for u now
i wanna scream
loud n loud
rather to commit suicide

after all is gone
means nothing
tommorow still waiting
for a good karma

waiting for u
on the middle of june or july
for a good smile
and for a perfect future

good nite


I cant sleep
and it ’s been my first week
Since the first I held you close to me
and it ’s like cutting all my fingers
just to keep it lingers
and I know that all those liquers wont heal

Back to the time when I want you around and I kept writing songs singing “wish you were here”
Back to the time when I want you around and i’m making you a sad song
just to let you know how it hurts

I found a way to get you now
But im affraid I cant keep up with your heart
and it comes to this conclution, I got you now
But im affraid I cant keep up with your heart

Sometimes this fullness seems so empty
and I don ’t know if I cant get thru this
Cus when im cutting all my fingers
To keep it lingers
I just know that all those liquers wont heal

i want you here
every time i feel so empty inside
i'm sick of this


First time I saw you
My heart beat faster
Then we got to know each other
Spent days and nights,
through the tears and happiness we had
How can it feels so wrong, when all the love has gone
And there’s nothing left to say but . . .

I just want you to know
that im not loving you anymore

The chemistry grew between us and we realised
But somehow we never got together
And you were never mine
I never thought the situation’s getting worse

I never meant to break your heart and hurt your
feelings
And how can it feel so wrong
That all the love has gone and there’s nothing left
to say, but . . .

I just want you to know that im not loving you
anymore

Now I know that you’re not the right person in my life
But I want to thank you
You teached me how to love and you make me strong
When all the love has gone, it’s all going wrong
I can’t keep going on, No more



detik disudut kamar semar
gelisah terasa
mengapa mereka asyik mengiba
bibir itu yang terasah
hancur lebam membasah
hidup fana terbiasa
reputasi bebani hasrat
tak ingat akan diri
tersiksa harga mati
enyahlah jalang!
sudah menjamah
sibak kan peduli tamah
sekali lagi,
mati kau karna hasrat
jaga tubuh liuk urat
tetap mati!
sudah habis badan ini
berkelana saja ke negri barat
pasti kan dapat segala hasrat
muak dia melihat liuk tubuhmu!
enyahlah kau,jalang!


Tubuh biru
Memar berbatu
Tak ada haru
Menghantar dalam peluh

Terisakkan pasak
Cambuk pekuk sesak
Mengiris gertak
Terukir bengkak

Belati pisau
Mengganti si parau
Bak di musim kemarau
Mengeringkan danau

Ini dia si tubuh biru
Terlepas dari jera
Menghantam batu pilu
Terjebak dalam ara


aku
diisini menanti malam
yang bertelut dalam asa dan penantian
ketika malam diselimuti duka
harapan semua sirna sudah
tak ada lagi harapan
yang membuahkan tanggapan
tersadar
semua tak sampai ujung fajarku
telah tenggelam
jatuh dalam hasrat yang sama
mulai ku langkahkan jiwa ini
ke depan cahaya itu
ku padamkan segera
lentera duka
yang berpijar diantara jiwa-jiwa yang kusam itu
tak ada maksud hati
untuk membungkam semua
semau ku
semampu ku
kan tetap berjuang
bak peluru yang dihempaskan
bak mereka yang terdeportasikan
yang selalu semangat tuk tetap berjuang
terimakasih bijaksana
inilah aku
si pemimpi kecil
yang menanti datangnya impian kelam


ANJINGISME !!

terlontarkan dalam lidah belati ini
saat rasa dendam dan kesal itu datang

tak pikir habis panjang
saat ketika mereka membincangkan diri ini
menginjak-injak dalam peluh

memang,
ANJINGISME , pun sudah merajalela

tak dapat dimngerti memang
apa yang sebenarnya mereka mau dari tubuh ini
hanya menjatuhkan
dan terus menjatuhkan raga ini sampai tanah kan tersentuh

sekali lagi,
ANJINGISME !!
terlontar lagi dari hati kusam ini

bingung
kesal
bagai tak ada harga diri lagi

tanpa disesali
mereka trus menjatuhkan
mengolok-olok
dan teruis menghina

mantap!

bagai kecoa yang malang
sudah terinjak-injak
diguyur pula

yahh,
hampir sama lah
apa yang kecoa malang itu rasakan
sama seperti tubuh dosa ini rasakan juga

terimakasih bijaksana
tak kan ku lupakan sang bijaksana yng selalu membuat hati ini damai


Berlari kecil tanpa berhenti
Tetap mencari
Dan terus mencari
Apalah arti sebuah jati diri
Jika hanya dalam kamusflase belaka

Robohkah hati ini?
Masih kuatkah untuk bertahan?
Sejenak kan berhenti

Melangkah kan tetap melangkah
Dan mencari tetap trus mencari
Hingga fajar kan terbit kembali di hari yang sama


inilah zaman maju
maju pesat bak peluru
tanpa peduli ada yang menderu

inilah zaman globalisasi
saling berlomba mencari sensasi
agar dianggap tetap sok aksi
padahal tak berarti

inilah zaman edan!
tak peduli kan medan
tetap pertahankan badan
dan berusaha tuk menjadi terdepan

inilah zaman politik
membungkam tawa yang menggelitik
dikobarkan oleh si licik
agar saku kan gemercik

wahai penghuni zaman
pandang mata kedepan
teguhlah dalam ketetapan
sampai akhir berhadapan

akhir riwayat
untuk sang khalik
menginjak mayat
berampas picik


kacaaaauuu!
hanya itu yang ada dibenakku sekarang
lebih baik dari hari-hari sebelumnya
hanya melangkah kedepan
dan terus melangkah
walau kemarin lebih indah dari saat ini
teruslah berharap agar kemarin kan datang kembali!
diam!
diam sejenak
diam tanpa ada tujuan
membentangkan tangan di bawah sang mega
terimakasih dinda
walau kemarin indah
dan untuk beberapa saat kedepan tak dapat berjumpa
dan walau dia lebih sempurna
kan ku undurkan raga ini untuk berhenti
berhenti menjadi sempurna di matamu dan dihidupmu


kisah awal
dari kusamnya seorang anak
bertekat dalam imajinasi
sampai ke dunia hayal yang tinggi
berimpikan permadani indah
dibawah hujan sambil menadah
kehidupan pasti,
tetap dinanti
"...mengapa aku, terlahir dalam perih, dibawah lampu jalanan ini, ku menguatkan diri, agar kelak aku kan bertahan hidup hingga hari esok usai. hujatlah aku! wahai mereka yang tak mengerti akan arti hidup ini! buanglah aku! maka aku akan membungkam mulutku, dan lekas pergi meninggalkan kau dan mereka!..."
tak tersadar
jeritan si pengelana kecil
tak terdengar lagi
kebisingan kota metropolitan
mendesak ia untuk lekas kembali pulang
pulang kembali ke istanaNya
setelah itu,
terhempaslah
semua hasrat, jiwa,
serta ruh yang terlepas dalam raga
hingga anak kusam yang membungkam
kembali bahagia di dunia khayalnya


tatkala petang tlah merunduk
tatkala sinar tlah meredup
semua ini tlah terjalani
terjalani dalam tapakan jerami
jerami yang tak terarungkan
oleh bangkai-bangkai di ujung angan
tak tersirat
tak jelas
mulai tak teraba
dan tak tersentuhkan lagi
apa yang tlah dimakan
bak nasi di pagi hari
menjadikan tenaga tuk badan
kembali tegak tak tersanggah
tanpa pegangan
tanpa sanggahan
diam!!!
detak jantungnya mendekat!
semua kan bersiaga
sebelum jiwa tersesat gelap
jauh ke dalam lelap
yang tak terlalap
dengar suara derap
dalam hari gelap


Sekejap mataku terjaga
Entah apa yang terpikirkan dalam asaku
Beribu nyamuk menemani malamku
Asa dan angan ingin menggapainya
Sampai mati ku kan menantinya

Tikaman lidah tak bertulangmu itu menusuk hatiku
Ingatan gelam akan hidupnya
Andai raga dapat memilikinya
Nama dia yang menuk rusuk nadiku

Sudah ku padamkan lentera merah
Wangi asap malam lentera padam
Angin malam menghempaskan raga dan jiwa
Sampai tak terasa antara hidup dan mati

Tak terasa
Indah malam telah berganti
Rona terang sang fajar menanti
Terus ku ukirkan namamu itu
Ooohh.... lamanya petang


kokoh rona tubuh tak berwana
kelitik diam alunan palu tak bertalu

ketenangan,
kegalauan,
keindahan,
kan tercampur dalam adukan semen yang tak berpanen

raga mulai renungkan ini
saat matahari tinggi
tersiratkah dalam benak mereka
arti sebuah lelah dalam pengaisan makna


Matahari yang diatas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang diatas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh, adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata:
"ini matahari! ini matahari!"
Matahari itu? ia memang di atas sana
supya selamanya kau menghela
bayang-bayangmu itu


Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya ku cari


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tal sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Kemarin, tepatnya hari Jum’at, ku lepaskan semua beban berat yang selama ini menggangguku. Ku pilih untuk tidak bersamanya lagi. Kunikmati semua masa-masa SMA-ku dengan ke lajangan ini.
Kata orang sih, punya pacar itu enak. Tapi apakah semua orang bisa menerima steatment tersebut? Apakah semuanya akan setuju dengan ungkapan tersebut?
Tidak! Malah,banyak sekali orang-orang yang lebih baik sendiri. Dan aku termasuk orang yang menganut pendapat bahwa hidup tanpa pasangan itu sangat mengasyikan. Kita dapat bebas apa saja. Kemana pun akan bebas! Hahaha.
Walaupun ku harus kuat untuk melepaskannya, bukan berarti aku harus terus tenggelam dalam gemelut kesedihan. Aku kan bangkit! Ku lanjutkan kenyataan hidup ini. Dan ku tatap dunia dan melangkah ke depan walau tak bersamanya lagi. Karena ku tau, teman-temanku lah yang jauh lebih berharga dalam menuntun langkah hidupku.
Aku bahagia hidup sendiri. Takkan ada kekangan dalam hidupku lagi. Takkan ada rasa khawatir akan dirinya lagi. Takkan tenggelam lagi dalam lautan kecemburuan itu. Dan aku takkan mendengarkan dia menceramahi diriku saat aku salah.
Aku sekarang mempunyai tujuan hidup yang pasti, “hidupku hanya untuk Tuhan dan hidupku hanya untuk musik saja”


Mungkin bagi setiap orang, persahabatan sangatlah penting. Persahabatan itu tak akan ada yang mampu membayarnya, sekalipun dibayar dengan materi pun tidak akan bisa.
Ramo dan Mona merupakan dua sahabat yang sudah akrab sekali sejak mereka duduk dibangku playgroup.
Dari kecil mereka mereka belajar untuk saling membantu dan saling peduli akan satu sama lain. Di saat Ramo ada masalah, pasti Mona yang slalu menemani dia untuk memecahkan permasalhannya. Dan begitu pula jika Mona memiliki masalah, pasti Ramolah yang slalu ada setia setiap saat menemani Mona untuk mengatasi masalah tersebut.
Tak terasa sekarang mereka sudah menduduki bangku SMA. Mereka sudah memiliki pacar. Ramo sering jalan bersama ceweknya. Dan Mona sering juga jalan bersama cowoknya. Namun dengan kehidupan mereka yang sudah semakin sibuk akan mengurusi pasangan masing-masing, mereka tidak pernah lupa untuk meluangkan waktu mereka untuk jalan berdua, untuk saling share, apakah ada masalah atau tidak yang sedang mereka rasakan.
Lama-lama Mona pun jenuh akan pacarnya itu. Mereka slalu saja bertengkar akan hal-hal yang sepele. Namun Ramo mencoba untuk membuat Mona untuk tetap bertahan dan setia dengan pacarnya tersebut.
Saat Ramo dan Mona sedang berjalan berdua,tepatnya mereka sedang makan siang bersama di foodcourt suatu mall, Mona melihat ceweknya Ramo sedang makan siang bersama cowok lain juga.
“Mo, tu liat deh! Itu kn cewek kamu? Bukannya dia kemarin sms km kalo sekarang dia mau kerja kelompok bersama gengnya? Kok malah berduaan sama cowok lain sih. Suapin-suapinan lagi?! Ihhh, menjijikan..!!”
“Hah? Oh iya betul juga ya! Arggghhh! Semuanya sama aja! Kapan sih ada cewek yang bisa setia sama aku. Semua pacar-pacar aku yang dulu juga seperti ini semua.”
“Sudahlah, Mo. Sekarang kamu samperin mereka saja.”
“Tidak ah,Mon! sekarang kita pulang saja! Aku muak melihat mereka berduaan seperti itu!”
“Tapi, Mo!! Kamu harus hadapi semua ini!”
“Hei, aku punya ide, Mon. Sekarang kita pergi, tapi kita sambil gandengan tangan dan lewat di depan mereka. Ayo, Mon!!”
Tanpa pikir panjang lagi, tangan Mona pun sudah digandeng dengan Ramo,sahabatnya itu. Mereka pun mulai melewati ceweknya Ramo itu yang sedang selingkuh.
Ceweknya Ramo pun melihat dua sahabat itu sedang bergandengan tangan. Ceweknya Ramo pun mulai jengkel juga. Namun, apa mau dikata, dia juga telah selingkuh dengan cowok lain.
Ramo dan Mona pun pulang dari mall terrsebut. Ramo memboncengi Mona, mengantarnya samapai depan rumah Mona.
Sampailah mereka di depan pagar rumah Mona
“Mo, makasih ya mau mengantarkan aku pulang! ”
“Iy sama-sama, Mon!”
“Kamu gak masuk ke rumah aku dulu, Mo?”
“Tak usahlah, Mon. sudah sore nih. Aku pulang duluan ya”
“Oke deh. Hati-hati ya, Mo!”
Lalu bergegaslah Ramo pulang ke rumahnya.
Tak terasa waktu terus berputar. Akhirnya, Ramo pun jomblo lagi. Dan Mona masih bertahan dengan cowoknya.
Namun entah ada angin apa, cowoknya Mona sms yang berisikian kalau cowoknya Mona itu sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan hubungan mereka. Jadi, Ramo dan Mona pun menjadi sahabat yang jomblo.
Hari demi hari, mereka semakin akrab layaknya seorang pacaran. Tapi mereka tak ada yang berani untuk mengungkapkan perasaan mereka. Mereka mulai menjalani hari-hari mereka bak layaknya dua sejoli yang setia.
Dan saat mereka sudah sangat akrab sekali satu sama lainnya, Ramo mencoba untuk beranikan diri. Ramo mencoba mengungkapkannya langsung dihadapan Mona.
“Mon.. Hmm, aku mau jujur dong”
“Jujur kenapa, Mo?”
Ramo mulai memegang kedua tangan Mona erat-erat, dan mulai ungkapkan,
“Mon, aku sayang sama kamu”
Dan seketika itu pula, Mona langsung memeluk Ramo.
Tak terasa begitu cepatnya. Mereka telah menikah. Mereka mengikrarkan janji setia untuk sehidup semati. Dan mereka menjadi seorang sahabat yang bisa menunjukan, bahwa setela mereka hidup bersama pun, mereka tetap saling tolong menolong layaknya seorang sahabat lagi. Mereka pun hidup bahagia.


Di pagi hari, ku terbangun dalam keadaan tak sadar, buku kimia dari cetak sampai buku ps/prnya sudah berantakan kekolong kasur.
Hari ini adalah ulangan pertama Kimia di kelas aku. Semalam aku tertidur dan tak bangun-bangun hingga pagi tadi.
Langsung saja ku ambil buku cetak kimia dan bergegaslah untuk langsung ku baca. Tak sadar juga, bahwa hari ini ada ulangan Bahasa Indonesia juga.
Hoooaaaahh…
Rasanya aku ingin cepat-cepat untuk lekas liburan. Hari-hariku mulai terasa penat. Aku ingin lepaskan semua rasa beban yang ada untuk segera berlibur ke suatu tempat.
Dan dipagi hari itu juga ku segera membuka laptopku untuk membuat dengan cepat untuk tugas cerpen Bahasa Indonesia. Walaupun hasilnya tidak karauan, yang penting, aku dapat menunjukan bahwa “segala tugas yang malas untuk dibuat, pasti kita bisa membuatnya asalkan ada niat untuk membuatnya”.


Di hari yang masih sangatlah buta, ku bukakan mata yang terpejam dari lelapnya istirahat selama semalam tadi. Seperti biasanya Aku selalu telat untuk mengawali hari-hariku.
Aku siapkan diriku dan perlengkapan-perlengkapan yang akan ku bawa. Setelah semuanya sudah siap, mulailah kupijakan kaki ke luar tempat tinggalku untuk memulai hari yang baru. Untuk memulai petualangan yang baru lagi dalam hidupku.
Ku mulai menaiki kendaraan yang biasa orang banyak pakai untuk berpergian dengan tidak terlalu banyak mengeluarkan ongkos. Ku pilih kursi depan angkutan tersebut untuk ku duduki.
Di sepanjang jalan, Aku melihat orang-orang yang memiliki kesibukan masing-masing di sudut-sudut jalan sana.
Semua hal yang orang-orang lakukan, Aku amati dengan seksama.
Aku sedikit terheran dengan tiga anak kecil. Mereka mengenakan seragam putih-merah. Mereka menelusuri trotoar jalan sambil melangkahkan lari-lari kecil.
Mereka masih sangat lugu. Mereka terus berlarian tanpa memikirkan di sebelah mereka, walau banyak kendaraan-kendaraan bermotor sedang mengantri atas kepadatan lalu lintas itu.
Tersirat dalam benakku untuk membayangkan, adakah salah seorang yang peduli dengan mereka? Adakah yang pernah membayangkan, apakah seorang anak kecil itu dapat terus berlari dengan bersama-sama kawannya untuk selalu mengejar cita-cita bersama?
Aku terlalu bodoh jika mengukur penglihatan pandangan hanya tertuju pada anak-anak kecil itu. Namun, yang Aku tahu, seorang anak kecil memiliki banyak sekali potensi-potensi yang sangat brilian. Dan mungkin juga karna Aku lebih senang melihat anak-anak kecil yang masih lugu bermain bersama dibandingkan melihat tontonan acara-acara televisi yang akhir-akhir ini lama-kelamaan sangat tidak bermutu sekali.
Aku terus melanjutkan hidupku. Hilanglah bayangan anak-anak kecil nan polo situ dari penglihataanku. Ku awali dunia dalam hidupku untuk terus meraih semua cita-cita dan ambisi yang saya punya.


Ada seorang gadis yang bernama Vanya. Dia adalah anak semata wayang di dalam keluarga yang sederhana. Walaupun mereka hidup sederhana, namun mereka selalu mengucap syukur kepada Tuhan atas berkat dan anugrah yang telah diberikan. Dia sangat rajin sekali pergi ke sekolah minggu. Setiap guru-guru pengajar di sekolah minggunya membacakan cerita tentang Tuhan Yesus, pasti Vanya selalu duduk manis dan memperhatikan cerita gurunya tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain yang sangat asyik dengan mengobrol dengan satu sama lain. Vanya ini bisa dibilang salah satu anak yang sangat aktif dan selalu hadir dalam kebaktian sekolah minggu di grejanya.
Suatu hari, tepatnya pada Minggu siang, Vanya dan orangtuanya sedang mempersiapkan barang-barang bawaan untuk pergi ke rumah KaKek. Vanya berenca untuk menginap di rumah KaKek satu atau dua hari untuk melepas rasa rindu selama setahun tidak bertemu dengan saudara-saudaranya dan KaKeknya. Setelah semuanya sudah siap untuk menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka tidak lupa untuk berdoa sebelum berangkat supaya Tuhan melindungi dan menyertai mereka dalam perjalanan menuju rumah KaKek. Setelah berdoa, mereka bergegas masuk ke dalam mobil, lalu berangkatlah menuju rumah KaKek.
Seperti biasanya, di dalam perjalanan panjang, Vanya yang selalu melamun memandangi jalan sekitar, di kejutkan dengan melihat seorang anak kecil. Anak kecil tersebut yang usianya lebih muda dari dia, anak kecil tersebut sedang mengais-ngais tong sampah di sebelah restoran mewah. Vanya bertanya-tanya di dalam hatinya, “Mengapa seorang anak kecil yang seharusnya menghabiskan waktu masa kecilnya dengan senyuman dan kebahagiaan, harus terhapuskan karena kenyataan hidup ini yang harus memaksakaan dia kehilangan masa kecilnya ini.” Sepanjang jalan dia memikirkan tentang anak kecil tersebut.
Masih dalam perjalanannya, Vanya mulai berdoa dalam hati. Dia berdoa kepada Tuhan, suatu hari kelak Vanya ingin bermain bersama pemulung kecil tersebut, agar dia dapat membuat pemulung kecil itu bahagia dan tersenyum. Dan tak terasa hari sudah menunjukan telah pukul 15:00, sampailah mereka di rumah KaKek. Vanya pun membantu orangtuanya untuk segera mengeluarkan barang-barang yang mereka bawa ke dalam rumah KaKek. Di dalam rumah tersebut, Vanya mendapatkan saudara-saudaranya sedang asyik bermain sepeda. Setelah dia selesai membantu ayah-ibunya memasukan barang-barang ke dalam rumah KaKek, Vanya ikut bergabung bermain sepeda dengan saudara-saudaranya. Sangat mengasyikan sekali bagi Vanya dapat bermain sepeda lagi bersama saudara-saudaranya itu.
Setelah selesai bermain sepeda, mereka melepas letih mereka dengan bersantai di depan TV, di ruang keluarga, dan dengan di tambah minuman-minuman yang mereka minum untuk meredakan dahaga mereka yang rasakan. Mereka sangat senang dapat berkumpul dan berbagi canda tawa lagi bersama. Namun, ada suatu berita yang sangat mengejutkan di TV. Ada seorang pemulung kecil yang tewas akibat tabrak lari. Awalnya Vanya menghiraukan akan berita tersebut, namun setelah diperhatikan lagi, dia mengenal ciri-ciri pemulung yang tewas tersebut. Ternyata pemulung kecil yang Vanya lihat di sebelah tong sampah restoran mewah tersebutlah yang tewas.
Vanya sangat sedih sekali mendengar berita tersebut, lalu dia masuk ke kamarnya sejenak untuk berdoa kepada Tuhan, supaya pemulung kecil tersebut dapat bahagia hidup di Surga bersama Tuhan Yesus. Vanya berdoa sampai menitikkan air mata. Dia sangat sedih sekali, karena dia belum bisa bermain bersama pemulung kecil itu untuk dapat membagikan canda dan tawanya itu. Setelah dia selesai berdoa, Vanya mencoba untuk tidak terlarut dalam kesedihan, dan ia mencoba untuk menghapuskan air mata di pipinya. Lalu dia mulai membaringkan dirinya untuk beristirahat sejenak.
Yang tak pernah Vanya sadari dari kecil, ternyata Vanya memiliki penyakit jantung yang bisa kapan saja membuat dia harus meninggalkan keluarganya untuk selamanya.
Dan ternayat semua itu benar!
Vanya mulai merasakan tak enak badan. Dia baru pertama kalinya merasakan sakit yang sangat menyiksa dia. Dia berdoa lagi kepada Tuhan di dalam hatinya,”Tuhan, aku tidak pernah merasakan sakit sesakit ini. Namun aku juga tidak pernah merasakan jiwaku sangat terasa damai seperti ini. Tuhan, tolonglah Vanya. Vanya tak kuat lagi akan sakit ini. Tuhan tolonglah Vanya. Dalam nama Tuhan Yesus, Vanya telah berdoa.Amin.” Setelah selesai berdoa, Vanya memutuskan untuk tidur supaya dapat mengurangi sakit yang ia rasakan.
Namun, memang itulah kehendak Tuhan. Sehabis Vanya memejamkan mata, dia menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir. Dan dia meninggalkan keluarganya untuk selama-lamanya. Jiwanya memang telah mati, namun Tuhan mengangkat roh Vanya menuju KerajaanNya di Surga. Kematian bukanlah berarti kesedihan. Di Surga sana, Vanya telah mewujudkan impiaannya tersebut. Vanya dapat bermain dan berbagi canda tawa bersama pemulung kecil itu di Surga.


Setelah semuanya itu berlalu, setelah sakit yang dirasakan Vanya telah usai. Semua rasa kegelisahan Vanya pun akan penyakitnya yang tak ia kenal tersuebut telah hilang. Jiwanya memang telah mati, namun rohnya pun kembali kepadaNya.
Tak sadar Vanya telah ke suatu temapt, tempat yang belum pernah ia kunjungi. Dimana, penghuni tempat tersebut sangatlah penuh dalam kasih. Dia mulai menelusuri jalan dan melihat banyak sekali orang-orang yang sedang bersukacita. Semua orang di tempat itu memakai jubah putih yang sangat bersih sekali, tak ada satu noda pun pada jubah tersebut
Lalu dia mulai bertanya kepada seseorang ibu yang sedang berbicara dengan temannya tersebut.
“Permisi,bu! Aku ingin bertanya. Sebenarnya kita ini ada dimana? Di dunia belahan mana? Aku baru pertama kali di tempat ini”
“Kau sangat lugu sekali, anakku. Kau sekarang berada di Surga. Dimana tempat yang penuh akan kemulianNya!”
“Apa benar,bu?”
“Iy, sekarang kau ada di Surga,KerajaanNy!”
“Wow! Baiklah kalu begitu. Terima kasih ya,bu. Sampai jumpa. Daaaah....”
“Sampai jumpa! Daaaah...”
Vanya mulai berlari menyusuri jalan tersebut. Dia ingin bertemu dengan pemulung kecil yang dia lihat di bumi. Dia terus mencari ke segala tempat, ke segala arah dan di segala tempat.
Saat dia telah jauh melangkah, tak jauh dari pandangannya, ada seorang Kakek tua, sepertinya dia mengenal wajah Kakek tersebut. Lalu dia mulai memberanikan diri untuk menegur Kakek tua itu.
“Kek?”
“Ada apa, Vanya? Ini KaKekmu yang dulu sering membacakan kau dongeng sebelum kau tidur. Masih ingatkah kau?”
“Wah, Kakek! Iya,iya. Aku ingat, Kek! Aku senang seklai bisa bertem kembali dengan KaKek!”
Kakek tersebut pun mulai memeluk gadis kecil itu. Vanya rasanya senang sekali dapat bertemu dengan Kakek.
“Kek, apakah Kakek tau tentang keberadaan seorang pemulung kecil disini?”
“KaKek tahu kok. Memang kenapa,nak?”
“Aku ingin bertemu dengan dia. Aku ingin bermain bersamanya,Kek.”
“Ayo, Kakek antarkan kamu untuk bertemu dengan dia!”
“Iy,Kek. Makasih ya,Kek!”
Mereka mulai berjalan menusuri jalan tersebut untuk menuju ke tempat dimana pemulung kecil itu berada. Di sepanjang jalan, Vanya dan KaKeknya asyik sekali berbagi pengalaman akan hidup mereka.
Memang sangat lama sekali mereka berjalan. Namun mereka tidak merasakan letih sama sekali. Mereka masih terus berjalan menelusuri jalan tersebut.
“Kek, apakah kita masih jauh?”
“Sebentar lagi,nak. Sebentar lagi kita samapai, dimana temapat pemulung kecil itu berada.”
“Apakah masih lama,Kek?”
“Hmmmm, apa kau lihat gadis kecil itu yang sedang menyendiri di taman?”
“Iya,Kek. Apakah itu dia?”
“Iya, itulah pemulung kecil yang kamu cari. Sudah lama dia menanti-nantikan kamu. Dia merasa kesepian disini. Dia sosok gadis yang sangatlah pendiam dan pemurung.”
Vanya mulai menghampiri gadis kecil itu. Dia mulai menyapa gadis tersebut yang sedang
Melamun di taman itu.
“Hai!”, sapa Vanya
Tiba-tiba gadis kecil itu memeluk Vanya. Gadis kecil itu mulai merasa senang dan tersenyum
“Terima kasih ya. Ternyata kau mau bertemu dengan aku. Aku sudah lama tak bermain dengan teman-temanku. Dan kamulah teman baruku! Nama kamu siapa?”
“Aku Vanya. Kalau kamu?”
“Nama aku Dara. Kamu mau tidak, kita bermain bersama?”
“Aku mau! Tapi sebelumnya, itu yang disana adalah Kakek aku. Kau boleh memanggil dan menganggapnya sebagai Kakek kamu juga”
Dara dan Vanya mulai berlari menuju Kakek. Dan mereka mulai memeluk Kakek. Setelah itu, Vanya dan Dara mulai mengajak Kakek untuk bermain.
“Kek, ayo ikut bermain bersama kita!”,ajak Vanya
“Ayo,Kek! Kita bermain bersama!”,ajak Dara kepada Kakek itu
“Kalian bermain saja dulu, cucu-cucuku. Kakek akan duduk dikursi taman itu saja”
“Baiklah,Kek! Kita main kejar-kejaran yuk! Sekarang Kamu yang jadi si pengejar,Ra! Kejar aku ya! Hehehe”
Mereka pun mulai bermain kejar-kejaran. Mereka sangat senang sekali dapat bermain bersama. Kakek pun melihat mereka sangat sukacita sekali. Sekalipun mereka baru berkenalan, namun mereka sudah sangat akrab sekali. Doa dan cita-cita Vanya untuk dapat berbagi canda tawa bersama dengan Dara pun tercapai. Mereka pun hidup bahagia dan sukacita.


aku malu,
hari ini aku tidak hemat
aku malu,
hari ini boros
aku malu telah berbohong
dan mendustai amanat
aku malu,
hari ini membuang waktu
aku malu,
hari ini tidak merawatmu
aku malu,
hari ini merusakmu
aku malu,
hari ini merasa tak berdaya menghadapi segalanya


satu demi satu daun-daun berguguran
waktu demi waktu terbuang sudah
tidak ada yang tersisa didalam benak dan hayalnya
merebahkan kepala yang tergulai letih demi sesuap nasi
naas memang bagi petinggi-petinggi kita yang kaya
yang banyak akan harta
tapi,
semua itu tak bisa terbayarkan oleh harta benda yang ada
mereka hanya membutuhkan kasih sayang dan cinta kasih yang menentramkan kalbu



apa yang dapat aku mengerti dari kata itu?
kata yang slalu terbayang dari pagi buta hingga malam menjelang
arti sebuah kata klise yang tersirat entah sampai kapan
entah kapan akan brhenti untuk melupakan kata-kata itu
aku berpijar bak mentari yg menyinari siang bolong dengan teriknya
halah,
sudahlah,
abaikan saja kata itu drari otakmu itu,bass
toh tak terlalu penting juga
haha


About Lorem