Ada seorang gadis yang bernama Vanya. Dia adalah anak semata wayang di dalam keluarga yang sederhana. Walaupun mereka hidup sederhana, namun mereka selalu mengucap syukur kepada Tuhan atas berkat dan anugrah yang telah diberikan. Dia sangat rajin sekali pergi ke sekolah minggu. Setiap guru-guru pengajar di sekolah minggunya membacakan cerita tentang Tuhan Yesus, pasti Vanya selalu duduk manis dan memperhatikan cerita gurunya tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain yang sangat asyik dengan mengobrol dengan satu sama lain. Vanya ini bisa dibilang salah satu anak yang sangat aktif dan selalu hadir dalam kebaktian sekolah minggu di grejanya.
Suatu hari, tepatnya pada Minggu siang, Vanya dan orangtuanya sedang mempersiapkan barang-barang bawaan untuk pergi ke rumah KaKek. Vanya berenca untuk menginap di rumah KaKek satu atau dua hari untuk melepas rasa rindu selama setahun tidak bertemu dengan saudara-saudaranya dan KaKeknya. Setelah semuanya sudah siap untuk menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka tidak lupa untuk berdoa sebelum berangkat supaya Tuhan melindungi dan menyertai mereka dalam perjalanan menuju rumah KaKek. Setelah berdoa, mereka bergegas masuk ke dalam mobil, lalu berangkatlah menuju rumah KaKek.
Seperti biasanya, di dalam perjalanan panjang, Vanya yang selalu melamun memandangi jalan sekitar, di kejutkan dengan melihat seorang anak kecil. Anak kecil tersebut yang usianya lebih muda dari dia, anak kecil tersebut sedang mengais-ngais tong sampah di sebelah restoran mewah. Vanya bertanya-tanya di dalam hatinya, “Mengapa seorang anak kecil yang seharusnya menghabiskan waktu masa kecilnya dengan senyuman dan kebahagiaan, harus terhapuskan karena kenyataan hidup ini yang harus memaksakaan dia kehilangan masa kecilnya ini.” Sepanjang jalan dia memikirkan tentang anak kecil tersebut.
Masih dalam perjalanannya, Vanya mulai berdoa dalam hati. Dia berdoa kepada Tuhan, suatu hari kelak Vanya ingin bermain bersama pemulung kecil tersebut, agar dia dapat membuat pemulung kecil itu bahagia dan tersenyum. Dan tak terasa hari sudah menunjukan telah pukul 15:00, sampailah mereka di rumah KaKek. Vanya pun membantu orangtuanya untuk segera mengeluarkan barang-barang yang mereka bawa ke dalam rumah KaKek. Di dalam rumah tersebut, Vanya mendapatkan saudara-saudaranya sedang asyik bermain sepeda. Setelah dia selesai membantu ayah-ibunya memasukan barang-barang ke dalam rumah KaKek, Vanya ikut bergabung bermain sepeda dengan saudara-saudaranya. Sangat mengasyikan sekali bagi Vanya dapat bermain sepeda lagi bersama saudara-saudaranya itu.
Setelah selesai bermain sepeda, mereka melepas letih mereka dengan bersantai di depan TV, di ruang keluarga, dan dengan di tambah minuman-minuman yang mereka minum untuk meredakan dahaga mereka yang rasakan. Mereka sangat senang dapat berkumpul dan berbagi canda tawa lagi bersama. Namun, ada suatu berita yang sangat mengejutkan di TV. Ada seorang pemulung kecil yang tewas akibat tabrak lari. Awalnya Vanya menghiraukan akan berita tersebut, namun setelah diperhatikan lagi, dia mengenal ciri-ciri pemulung yang tewas tersebut. Ternyata pemulung kecil yang Vanya lihat di sebelah tong sampah restoran mewah tersebutlah yang tewas.
Vanya sangat sedih sekali mendengar berita tersebut, lalu dia masuk ke kamarnya sejenak untuk berdoa kepada Tuhan, supaya pemulung kecil tersebut dapat bahagia hidup di Surga bersama Tuhan Yesus. Vanya berdoa sampai menitikkan air mata. Dia sangat sedih sekali, karena dia belum bisa bermain bersama pemulung kecil itu untuk dapat membagikan canda dan tawanya itu. Setelah dia selesai berdoa, Vanya mencoba untuk tidak terlarut dalam kesedihan, dan ia mencoba untuk menghapuskan air mata di pipinya. Lalu dia mulai membaringkan dirinya untuk beristirahat sejenak.
Yang tak pernah Vanya sadari dari kecil, ternyata Vanya memiliki penyakit jantung yang bisa kapan saja membuat dia harus meninggalkan keluarganya untuk selamanya.
Dan ternayat semua itu benar!
Vanya mulai merasakan tak enak badan. Dia baru pertama kalinya merasakan sakit yang sangat menyiksa dia. Dia berdoa lagi kepada Tuhan di dalam hatinya,”Tuhan, aku tidak pernah merasakan sakit sesakit ini. Namun aku juga tidak pernah merasakan jiwaku sangat terasa damai seperti ini. Tuhan, tolonglah Vanya. Vanya tak kuat lagi akan sakit ini. Tuhan tolonglah Vanya. Dalam nama Tuhan Yesus, Vanya telah berdoa.Amin.” Setelah selesai berdoa, Vanya memutuskan untuk tidur supaya dapat mengurangi sakit yang ia rasakan.
Namun, memang itulah kehendak Tuhan. Sehabis Vanya memejamkan mata, dia menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir. Dan dia meninggalkan keluarganya untuk selama-lamanya. Jiwanya memang telah mati, namun Tuhan mengangkat roh Vanya menuju KerajaanNya di Surga. Kematian bukanlah berarti kesedihan. Di Surga sana, Vanya telah mewujudkan impiaannya tersebut. Vanya dapat bermain dan berbagi canda tawa bersama pemulung kecil itu di Surga.
Setelah semuanya itu berlalu, setelah sakit yang dirasakan Vanya telah usai. Semua rasa kegelisahan Vanya pun akan penyakitnya yang tak ia kenal tersuebut telah hilang. Jiwanya memang telah mati, namun rohnya pun kembali kepadaNya.
Tak sadar Vanya telah ke suatu temapt, tempat yang belum pernah ia kunjungi. Dimana, penghuni tempat tersebut sangatlah penuh dalam kasih. Dia mulai menelusuri jalan dan melihat banyak sekali orang-orang yang sedang bersukacita. Semua orang di tempat itu memakai jubah putih yang sangat bersih sekali, tak ada satu noda pun pada jubah tersebut
Lalu dia mulai bertanya kepada seseorang ibu yang sedang berbicara dengan temannya tersebut.
“Permisi,bu! Aku ingin bertanya. Sebenarnya kita ini ada dimana? Di dunia belahan mana? Aku baru pertama kali di tempat ini”
“Kau sangat lugu sekali, anakku. Kau sekarang berada di Surga. Dimana tempat yang penuh akan kemulianNya!”
“Apa benar,bu?”
“Iy, sekarang kau ada di Surga,KerajaanNy!”
“Wow! Baiklah kalu begitu. Terima kasih ya,bu. Sampai jumpa. Daaaah....”
“Sampai jumpa! Daaaah...”
Vanya mulai berlari menyusuri jalan tersebut. Dia ingin bertemu dengan pemulung kecil yang dia lihat di bumi. Dia terus mencari ke segala tempat, ke segala arah dan di segala tempat.
Saat dia telah jauh melangkah, tak jauh dari pandangannya, ada seorang Kakek tua, sepertinya dia mengenal wajah Kakek tersebut. Lalu dia mulai memberanikan diri untuk menegur Kakek tua itu.
“Kek?”
“Ada apa, Vanya? Ini KaKekmu yang dulu sering membacakan kau dongeng sebelum kau tidur. Masih ingatkah kau?”
“Wah, Kakek! Iya,iya. Aku ingat, Kek! Aku senang seklai bisa bertem kembali dengan KaKek!”
Kakek tersebut pun mulai memeluk gadis kecil itu. Vanya rasanya senang sekali dapat bertemu dengan Kakek.
“Kek, apakah Kakek tau tentang keberadaan seorang pemulung kecil disini?”
“KaKek tahu kok. Memang kenapa,nak?”
“Aku ingin bertemu dengan dia. Aku ingin bermain bersamanya,Kek.”
“Ayo, Kakek antarkan kamu untuk bertemu dengan dia!”
“Iy,Kek. Makasih ya,Kek!”
Mereka mulai berjalan menusuri jalan tersebut untuk menuju ke tempat dimana pemulung kecil itu berada. Di sepanjang jalan, Vanya dan KaKeknya asyik sekali berbagi pengalaman akan hidup mereka.
Memang sangat lama sekali mereka berjalan. Namun mereka tidak merasakan letih sama sekali. Mereka masih terus berjalan menelusuri jalan tersebut.
“Kek, apakah kita masih jauh?”
“Sebentar lagi,nak. Sebentar lagi kita samapai, dimana temapat pemulung kecil itu berada.”
“Apakah masih lama,Kek?”
“Hmmmm, apa kau lihat gadis kecil itu yang sedang menyendiri di taman?”
“Iya,Kek. Apakah itu dia?”
“Iya, itulah pemulung kecil yang kamu cari. Sudah lama dia menanti-nantikan kamu. Dia merasa kesepian disini. Dia sosok gadis yang sangatlah pendiam dan pemurung.”
Vanya mulai menghampiri gadis kecil itu. Dia mulai menyapa gadis tersebut yang sedang
Melamun di taman itu.
“Hai!”, sapa Vanya
Tiba-tiba gadis kecil itu memeluk Vanya. Gadis kecil itu mulai merasa senang dan tersenyum
“Terima kasih ya. Ternyata kau mau bertemu dengan aku. Aku sudah lama tak bermain dengan teman-temanku. Dan kamulah teman baruku! Nama kamu siapa?”
“Aku Vanya. Kalau kamu?”
“Nama aku Dara. Kamu mau tidak, kita bermain bersama?”
“Aku mau! Tapi sebelumnya, itu yang disana adalah Kakek aku. Kau boleh memanggil dan menganggapnya sebagai Kakek kamu juga”
Dara dan Vanya mulai berlari menuju Kakek. Dan mereka mulai memeluk Kakek. Setelah itu, Vanya dan Dara mulai mengajak Kakek untuk bermain.
“Kek, ayo ikut bermain bersama kita!”,ajak Vanya
“Ayo,Kek! Kita bermain bersama!”,ajak Dara kepada Kakek itu
“Kalian bermain saja dulu, cucu-cucuku. Kakek akan duduk dikursi taman itu saja”
“Baiklah,Kek! Kita main kejar-kejaran yuk! Sekarang Kamu yang jadi si pengejar,Ra! Kejar aku ya! Hehehe”
Mereka pun mulai bermain kejar-kejaran. Mereka sangat senang sekali dapat bermain bersama. Kakek pun melihat mereka sangat sukacita sekali. Sekalipun mereka baru berkenalan, namun mereka sudah sangat akrab sekali. Doa dan cita-cita Vanya untuk dapat berbagi canda tawa bersama dengan Dara pun tercapai. Mereka pun hidup bahagia dan sukacita.
